NhatXu – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa konflik dengan Iran masih belum berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara bersama CBS News yang disiarkan pada Minggu, 10 Mei 2026. Netanyahu menilai Iran masih memiliki ancaman serius terkait program nuklirnya.
Menurut Netanyahu, Iran masih menyimpan persediaan uranium yang diperkaya dalam jumlah signifikan. Ia menegaskan material tersebut harus disingkirkan untuk mencegah ancaman baru di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Israel masih memandang Iran sebagai ancaman strategis utama.
“Baca Juga: Setting Jepang Muncul di Rumor Dying Light 3″
Netanyahu mengatakan operasi militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat telah mencapai banyak tujuan penting. Namun, ia menegaskan operasi tersebut belum sepenuhnya selesai karena masalah uranium Iran belum terselesaikan. Fokus utama Israel kini tertuju pada pengawasan kemampuan nuklir Teheran.
Ketegangan antara Israel dan Iran kembali menjadi perhatian internasional dalam beberapa bulan terakhir. Konflik tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga stabilitas politik global. Negara-negara besar terus memantau perkembangan situasi secara intensif.
Israel Fokus Hentikan Infrastruktur Nuklir dan Rudal Iran
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu menjelaskan tujuan utama operasi terhadap Iran. Ia menyebut Israel dan Amerika Serikat ingin membongkar infrastruktur pengayaan uranium milik Teheran. Selain itu, mereka juga ingin mencegah Iran membangun kembali jaringan rudal dan kelompok proksi.
Netanyahu menolak menjelaskan detail rencana militer yang mungkin dilakukan pada masa mendatang. Meski demikian, ia mengisyaratkan kemungkinan langkah langsung terhadap persediaan uranium Iran. Pernyataan itu memperlihatkan sikap tegas Israel terkait isu program nuklir Teheran.
Ia mengatakan bahwa jika tercapai kesepakatan tertentu, maka persediaan uranium tersebut harus diambil. Pernyataan itu langsung memicu perhatian luas dari pengamat hubungan internasional. Banyak pihak menilai isu uranium akan menjadi fokus utama negosiasi berikutnya.
Program nuklir Iran selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan dengan negara Barat dan Israel. Teheran terus menegaskan bahwa program tersebut bertujuan damai dan untuk kepentingan energi nasional. Namun, Israel dan beberapa negara Barat menilai Iran berpotensi mengembangkan senjata nuklir.
Donald Trump Disebut Dukung Sikap Tegas Israel
Pada Sabtu, 9 Mei 2026, media Israel melaporkan keterlibatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam isu tersebut. Trump disebut telah meyakinkan Netanyahu terkait posisi Washington mengenai persediaan uranium Iran. Laporan itu menyebut AS tidak akan memberikan konsesi terkait isu tersebut.
Dukungan Amerika Serikat dianggap penting bagi strategi keamanan Israel di kawasan Timur Tengah. Hubungan dekat kedua negara selama ini menjadi faktor utama dalam berbagai kebijakan regional. Sikap Washington terhadap Iran juga terus menjadi perhatian komunitas internasional.
Meski laporan tersebut belum disertai detail lengkap, media Israel menggambarkan hubungan kedua pemimpin tetap kuat. Trump sebelumnya dikenal memiliki pendekatan keras terhadap program nuklir Iran selama masa kepemimpinannya. Kebijakan itu kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan terbaru tersebut.
Di sisi lain, situasi politik kawasan tetap berada dalam kondisi sensitif. Ketegangan terkait program nuklir Iran dapat memengaruhi hubungan diplomatik di Timur Tengah. Banyak negara kini mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Iran Tolak Proposal Perdamaian Amerika Serikat
Iran pada Minggu pagi memberikan tanggapan resmi terhadap proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat. Pemerintah Teheran menolak proposal tersebut dan menyebutnya sebagai tuntutan berlebihan. Iran menilai usulan itu mengabaikan hak-hak dasar bangsa mereka.
Selain menolak proposal tersebut, Iran juga meminta kompensasi dari Amerika Serikat. Teheran menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan nasional mereka, termasuk di wilayah Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan jalur strategis penting bagi perdagangan energi dunia.
Pemerintah Iran selama ini menolak tekanan internasional terkait program nuklir mereka. Teheran berulang kali menegaskan bahwa aktivitas nuklirnya berada dalam kerangka hukum internasional. Namun, negara-negara Barat tetap menaruh perhatian besar terhadap perkembangan program tersebut.
Selat Hormuz sendiri memiliki posisi penting dalam geopolitik global. Jalur laut tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan itu sering memengaruhi stabilitas harga energi internasional.
“Baca Juga: Xiaomi Hadirkan Masker Mata Sekaligus Alat Pijat”
Netanyahu Ingin Israel Kurangi Ketergantungan pada Bantuan AS
Dalam wawancara yang sama, Netanyahu juga membahas hubungan pertahanan Israel dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan keinginannya agar Israel secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bantuan militer AS. Saat ini, bantuan tersebut mencapai sekitar USD 3,8 miliar setiap tahun.
Netanyahu menyebut Israel perlu bergerak menuju hubungan kemitraan yang lebih seimbang dengan Washington. Ia mengusulkan masa transisi selama sepuluh tahun untuk mencapai tujuan tersebut. Pernyataan itu memperlihatkan ambisi Israel memperkuat kemandirian pertahanan nasional.
Selain itu, Netanyahu turut menyinggung peran China dalam perkembangan militer Iran. Ia mengklaim bahwa China memberikan sejumlah dukungan terhadap manufaktur rudal Iran. Namun, ia tidak menjelaskan bentuk dukungan tersebut secara rinci.
Netanyahu juga mengaku khawatir terhadap menurunnya dukungan publik Amerika Serikat terhadap Israel. Menurutnya, perkembangan media sosial ikut memengaruhi perubahan pandangan masyarakat. Ia menilai narasi yang berkembang di platform digital memiliki dampak besar terhadap opini publik internasional.




Leave a Reply