NhatXu– Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan memerintahkan serangan baru terhadap Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh The New York Times pada Sabtu, 10 Januari 2026, dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui langsung diskusi internal pemerintahan. Pertimbangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes dan kerusuhan domestik.
“Baca Juga: Mahkamah Internasional PBB Gelar Sidang Kasus Myanmar”
Menurut laporan tersebut, Trump telah menerima pengarahan dalam beberapa hari terakhir mengenai sejumlah opsi militer. Opsi itu mencakup kemungkinan serangan terhadap target tertentu di Teheran. Hingga saat ini, belum ada keputusan final yang diambil oleh Presiden Amerika Serikat terkait langkah militer tersebut.
Opsi Serangan dan Sikap Gedung Putih
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Trump telah diberi gambaran berbagai skenario respons militer, termasuk serangan yang tidak secara langsung menyasar target militer. Meski demikian, opsi-opsi tersebut masih berada pada tahap pembahasan. Gedung Putih belum mengonfirmasi rencana konkret maupun jadwal pelaksanaan serangan.
Trump dikenal kerap mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ia secara terbuka menyampaikan ancaman serta tekanan politik terhadap Teheran. Sikap tersebut kembali ditegaskan melalui pernyataan publik yang mendukung para demonstran di Iran.
Dukungan Trump terhadap Demonstran Iran
Melalui akun media sosial Truth Social, Trump menyampaikan dukungan terbuka kepada para demonstran Iran. Ia menuliskan bahwa Iran sedang mengincar kebebasan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat siap membantu. Pernyataan tersebut dikutip oleh media internasional dan menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara.
Pemerintah Iran memandang pernyataan tersebut sebagai bentuk campur tangan asing. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai Amerika Serikat mendorong individu tertentu untuk menciptakan kekacauan dan kerusuhan di dalam negeri Iran. Ia menyebut pendekatan Washington terhadap Iran tidak berbeda dengan perlakuan terhadap negara lain yang dianggap berseberangan dengan kepentingan AS.
Latar Belakang Protes dan Respons Iran
Gelombang protes di Iran pecah pada 28 Desember 2025 setelah nilai mata uang nasional anjlok tajam. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga bahan makanan dan kebutuhan pokok. Demonstrasi yang awalnya bersifat ekonomi kemudian berkembang menjadi kerusuhan di berbagai kota, termasuk Teheran.
Kerusuhan ditandai dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan serta serangan terhadap lembaga pemerintah. Untuk meredam situasi, otoritas Iran memutus akses internet dan jaringan telepon nasional. Langkah tersebut menuai kritik internasional, namun pemerintah Iran menilai tindakan itu perlu demi menjaga stabilitas.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menolak keras ancaman Amerika Serikat. Ia menyebut ancaman tersebut tidak berdasar dan menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur menghadapi pihak-pihak yang dianggap merusak ketertiban negara.
“Baca Juga: Kemkomdigi Peringatkan Risiko Deepfake dari Grok AI di X”
Riwayat Ketegangan Militer AS dan Iran
Ketegangan terbaru ini tidak terlepas dari konflik sebelumnya antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Juni 2025, AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai dukungan terhadap kampanye udara Israel selama 12 hari. Serangan tersebut menandai eskalasi serius dalam hubungan kedua negara.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun memperlihatkan potensi konflik regional yang lebih luas. Hingga kini, situasi masih berkembang dan keputusan akhir Trump terkait opsi serangan baru terhadap Iran terus dinantikan oleh komunitas internasional.




Leave a Reply