NhatXu – Peneliti dari University of California San Diego mengembangkan prototipe cincin pintar untuk memantau berbagai biomarker melalui keringat. Teknologi ini dapat mengukur glukosa tanpa mengambil sampel darah secara langsung. Hasil pengukuran kemudian dikirim secara nirkabel ke aplikasi smartphone.
Perangkat tersebut dikembangkan oleh tim di laboratorium Joseph Wang. Ia merupakan profesor pada Department of Chemical and Nano Engineering di UC San Diego. Penelitian mengenai cincin ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada Juli 2026.
Cincin tersebut dirancang sebagai prototipe pemantauan biomarker secara terus-menerus. Tim peneliti menyebut perangkat ini dapat memantau beberapa zat kimia dari keringat jari. Biomarker yang tersedia mencakup glukosa, keton, vitamin C, asam urat, laktat, dan alkohol.
“Baca Juga: POCO M8 Power Bawa Baterai Jumbo 8.000 mAh”
Teknologi ini berpotensi membantu pemantauan kondisi tubuh tanpa prosedur pengambilan darah berulang. Namun, perangkat tersebut masih berupa prototipe penelitian. Karena itu, penggunaannya belum dapat dianggap sebagai pengganti perangkat medis yang tersedia secara komersial.
Peneliti mengembangkan teknologi ini untuk menghadirkan informasi biokimia secara lebih praktis. Cincin pintar komersial umumnya berfokus pada informasi fisik seperti aktivitas atau kondisi tubuh. Prototipe UC San Diego mencoba menambahkan informasi mengenai perubahan molekuler dalam tubuh.
Osmotic Hydrogel Menarik Keringat Tanpa Pengguna Harus Berolahraga
Salah satu komponen utama cincin tersebut adalah osmotic hydrogel. Material polimer lunak ini digunakan untuk menarik cairan dari permukaan kulit. Proses tersebut berlangsung melalui tekanan osmotik sehingga tidak membutuhkan tusukan pada kulit.
Teknologi tersebut juga tidak mengharuskan pengguna melakukan aktivitas fisik terlebih dahulu. Cincin dapat mengambil keringat secara pasif dari permukaan jari. Hal ini menjadi salah satu perbedaan penting dibandingkan metode yang mengandalkan keringat akibat olahraga.
Keringat yang terkumpul kemudian diarahkan menuju sistem sensor di dalam cincin. Sensor elektrokimia menganalisis kandungan kimia dari sampel tersebut secara berulang. Sistem kemudian menggunakan hasil pengukuran untuk memperkirakan konsentrasi biomarker tertentu.
Prototipe tersebut juga menggunakan kalibrasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pengguna. Kalibrasi tersebut membantu mengubah respons sensor menjadi nilai konsentrasi biomarker. Pendekatan tersebut ditujukan untuk memberikan gambaran perubahan biomarker secara lebih personal.
Setelah proses analisis berlangsung, data dikirim secara nirkabel menuju aplikasi smartphone. Pengguna dapat melihat informasi biomarker melalui perangkat tersebut. Sistem ini menggabungkan sensor, komponen elektronik, baterai, dan saluran mikrofluida dalam bentuk cincin.
Prototipe menggunakan baterai fleksibel berbasis zinc-silver oxide. Baterai tersebut mampu menyediakan daya hingga sekitar 12 jam dalam satu kali pengisian. Durasi tersebut masih menjadi salah satu aspek yang perlu dikembangkan sebelum teknologi digunakan lebih luas.
Cincin Dapat Memantau Glukosa, Keton, Vitamin C hingga Alkohol
Selain glukosa, sistem tersebut dapat mendeteksi beberapa biomarker lain secara bersamaan. Daftarnya mencakup keton, vitamin C, asam urat, laktat, dan alkohol. Kemampuan tersebut membuat cincin memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan pemantau glukosa saja.
Pemantauan keton menjadi salah satu fitur yang relevan untuk pengelolaan diabetes. Pada penderita diabetes tipe 1, kadar keton yang tinggi dapat berkaitan dengan risiko diabetic ketoacidosis atau DKA. Kondisi tersebut merupakan komplikasi serius yang membutuhkan penanganan medis.
Dalam pengujian yang melibatkan relawan sehat dan penderita diabetes tipe 1, hasil glukosa cincin mengikuti hasil dari CGM komersial. Pengukuran keton juga mengikuti hasil pengukuran dari alat pengukur keton darah.
Hasil tersebut menunjukkan potensi teknologi untuk pemantauan biomarker secara berkelanjutan. Namun, hasil penelitian tidak berarti cincin tersebut sudah siap menggantikan perangkat medis. Pengembangan dan validasi lebih lanjut tetap diperlukan sebelum penggunaan klinis yang lebih luas.
Kemampuan memantau beberapa biomarker sekaligus juga membuka kemungkinan penggunaan di luar pengelolaan diabetes. Data mengenai laktat dapat memberikan informasi terkait aktivitas metabolik tubuh. Sementara itu, vitamin C dan biomarker lain dapat berkaitan dengan pemantauan nutrisi.
Peneliti melihat kemampuan tersebut sebagai peluang untuk memperluas fungsi perangkat wearable. Cincin dapat memberikan informasi molekuler yang sebelumnya tidak tersedia pada banyak perangkat sejenis. Data tersebut berpotensi melengkapi informasi fisik yang sudah dikumpulkan wearable lain.
Meski demikian, hasil pengukuran biomarker dari keringat memiliki konteks biologis tersendiri. Karena itu, data dari cincin perlu dipahami berdasarkan metode kalibrasi dan validasi yang digunakan. Penelitian lanjutan akan menentukan seberapa akurat teknologi tersebut dalam penggunaan sehari-hari.
Teknologi Ini Berpotensi Membantu Atlet dan Pemantauan Nutrisi
Penggunaan cincin tidak terbatas pada penderita diabetes. Peneliti juga melihat potensi teknologi tersebut untuk pemantauan nutrisi dan kondisi tubuh. Kemampuan mengukur beberapa biomarker dapat memberikan informasi tambahan selama aktivitas sehari-hari.
Atlet menjadi salah satu kelompok yang berpotensi memanfaatkan teknologi tersebut. Informasi biomarker tertentu dapat membantu memahami perubahan kondisi tubuh selama aktivitas. Namun, penggunaan untuk kebutuhan olahraga tetap membutuhkan penelitian tambahan untuk menentukan manfaat praktisnya.
Pemantauan nutrisi juga menjadi salah satu skenario yang disebut oleh tim penelitian. Data biomarker dapat memberikan informasi molekuler secara berkala. Pendekatan tersebut dapat melengkapi data aktivitas dan parameter fisik dari perangkat wearable lainnya.
Peneliti UC San Diego memandang pemantauan biomarker sebagai pelengkap informasi kesehatan. Data molekuler dapat memberikan gambaran berbeda dibandingkan informasi fisik. Karena itu, integrasi keduanya berpotensi menghasilkan pemantauan kondisi tubuh yang lebih menyeluruh.
Meski potensinya luas, perangkat tersebut masih memiliki keterbatasan teknis. Salah satunya adalah daya baterai yang baru mencapai sekitar 12 jam. Ukuran prototipe juga masih perlu dikembangkan agar lebih sesuai untuk penggunaan sehari-hari.
Validasi lebih luas juga diperlukan untuk memastikan konsistensi hasil pada berbagai kondisi. Penelitian saat ini memberikan hasil awal yang menjanjikan pada beberapa kelompok peserta. Namun, perangkat medis membutuhkan tingkat keandalan yang sangat tinggi sebelum digunakan untuk keputusan terapi.
Karena itu, cincin tersebut sebaiknya dipandang sebagai teknologi penelitian. Perangkat ini menunjukkan arah perkembangan wearable yang mulai mengukur informasi biokimia. Perjalanan menuju produk konsumen atau perangkat medis masih membutuhkan berbagai tahap pengembangan.
“Baca Juga: Intergalactic: The Heretic Prophet Disebut Rilis 2027″
Cincin UC San Diego Menunjukkan Arah Baru Wearable Pemantau Kesehatan
Pengembangan cincin UC San Diego memperlihatkan perkembangan teknologi wearable menuju pemantauan biomarker. Perangkat tersebut menggabungkan pengambilan keringat pasif, sensor elektrokimia, elektronik, dan koneksi nirkabel. Seluruh sistem ditempatkan dalam bentuk perangkat yang dapat dikenakan di jari.
Kemampuan memantau glukosa dan keton menjadi salah satu aspek paling menarik dari penelitian tersebut. Pengujian awal menunjukkan hasil yang mengikuti perangkat pemantauan komersial terkait. Namun, temuan tersebut tetap perlu diperkuat melalui validasi lebih lanjut.
Konsep pemantauan tanpa jarum juga bukan target baru dalam industri wearable. Perusahaan teknologi seperti Apple telah lama dikaitkan dengan pengembangan pemantauan glukosa noninvasif. Tantangan utamanya tetap berkaitan dengan akurasi dan keandalan hasil pengukuran.
Untuk perangkat yang digunakan dalam pengelolaan diabetes, kesalahan pengukuran dapat memiliki konsekuensi serius. Karena itu, teknologi semacam ini membutuhkan standar validasi yang jauh lebih ketat. Cincin UC San Diego saat ini masih berada pada tahap penelitian dan prototipe.
Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications memberikan dasar untuk pengembangan lebih lanjut. Tim peneliti menunjukkan bahwa beberapa biomarker dapat dipantau secara bersamaan melalui keringat. Pendekatan tersebut dapat membuka peluang baru bagi teknologi kesehatan yang lebih personal.
Tahap berikutnya akan menentukan apakah konsep tersebut dapat dibuat lebih kecil, tahan lama, dan konsisten. Pengembangan baterai juga penting untuk meningkatkan durasi penggunaan perangkat. Selain itu, sistem sensor perlu terus diuji pada kondisi penggunaan yang lebih beragam.
Untuk saat ini, cincin tersebut belum menjadi pengganti CGM atau alat pemeriksaan darah. Namun, penelitian ini menunjukkan potensi pemantauan biomarker secara lebih praktis. Jika pengembangan dan validasinya berhasil, teknologi serupa dapat memperluas kemampuan perangkat wearable di masa mendatang.




Leave a Reply