NhatXu – Akhir pekan lalu, Microsoft menghadapi gangguan besar akibat putusnya dua kabel bawah laut utama di Laut Merah. Kabel SEA-ME-WE-4 dan IMEWE, yang menghubungkan Asia dan Eropa, mengalami kerusakan yang memengaruhi layanan Azure. Microsoft mengonfirmasi insiden ini pada Sabtu, 6 September 2025, melalui pesan resmi di status Azure. Pengguna yang trafiknya melewati wilayah Timur Tengah melaporkan lonjakan latensi dan penurunan performa layanan cloud Microsoft. Dampak gangguan ini dirasakan luas terutama pada jalur Asia–Eropa yang sangat padat.
“Baca Juga: Google Boleh Pertahankan Chrome, Tapi Ada Syarat Baru dari Hakim”
Pengalihan Trafik dan Dampak Jangka Pendek pada Layanan Azure
Setelah kerusakan, Microsoft langsung mengalihkan trafik ke jalur alternatif untuk mengurangi dampak. Namun, jalur pengganti ini belum sepenuhnya mampu menampung beban trafik yang besar. Akibatnya, latensi lebih tinggi tetap terjadi, terutama untuk layanan yang mengandalkan koneksi lintas regional seperti aplikasi cloud dan enterprise. Microsoft menyatakan bahwa layanan Azure di jalur lain tetap berjalan normal, sehingga dampak lebih terasa pada rute yang terganggu. Pengalihan ini merupakan langkah sementara sambil menunggu perbaikan fisik kabel.
Kompleksitas Perbaikan Kabel di Kawasan Geopolitik Sensitif Laut Merah
Perbaikan kabel bawah laut bukan proses cepat atau mudah, terutama di Laut Merah yang merupakan wilayah geopolitik sensitif. Kapal perbaikan terbatas jumlahnya dan harus bekerja dengan aman di zona yang rawan konflik dan cuaca yang tidak menentu. Microsoft dan operator kabel memperkirakan perbaikan akan memakan waktu sekitar dua minggu atau lebih. Selain itu, jadwal perbaikan sulit dipastikan karena berbagai faktor teknis dan keamanan. Gangguan serupa pernah terjadi pada Februari 2024 dengan durasi perbaikan yang panjang.
Dampak Global dari Kerusakan Kabel Bawah Laut
Kabel bawah laut SEA-ME-WE-4 dan IMEWE menjadi tulang punggung konektivitas internet global, menghubungkan berbagai negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Kerusakan ini tidak hanya memengaruhi Microsoft, tetapi juga berdampak pada banyak perusahaan teknologi besar seperti Google dan Meta. NetBlocks melaporkan penurunan kecepatan internet di negara-negara seperti Pakistan, India, dan kawasan Teluk sebagai dampak langsung dari putusnya kabel tersebut. Gangguan ini membebani rute alternatif dan menyebabkan perlambatan akses internet di wilayah yang sangat bergantung pada kabel ini.
“Baca Juga: Nasib Nova Launcher Tak Pasti Usai Developer Utama Tinggalkan Proyek”
Kesiapan Perusahaan Menghadapi Risiko Infrastruktur Kritis
Insiden ini menegaskan betapa krusialnya infrastruktur kabel bawah laut dalam menjaga konektivitas digital global. Perusahaan teknologi besar harus menyiapkan rencana mitigasi risiko untuk menghadapi gangguan serupa di masa depan. Meski Azure tetap beroperasi, perusahaan yang mengandalkan koneksi lintas wilayah harus siap menghadapi latensi lebih tinggi dan potensi gangguan sementara. Penguatan jaringan alternatif dan diversifikasi jalur konektivitas menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan sistem cloud global. Insiden ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam menjaga keamanan dan stabilitas infrastruktur telekomunikasi.




Leave a Reply