NhatXu – Pemerintahan Donald Trump tengah merancang kebijakan tarif baru yang mengenakan beban berdasarkan jumlah chip dalam produk elektronik impor. Langkah ini bertujuan mendorong perusahaan memindahkan produksi ke Amerika Serikat (AS). Menurut tiga sumber yang mengetahui isu tersebut, Departemen Perdagangan AS akan menghitung nilai chip dalam setiap perangkat dan mengenakan tarif tertentu dari nilai tersebut. Namun, hingga kini, belum ada komentar resmi dari Departemen Perdagangan terkait kebijakan ini.
“Baca Juga: Kimia Farma Optimalkan Modal dengan Jual 38 Aset Senilai Rp 2,15 Triliun”
Alasan Pemerintah AS Dorong Produksi Semikonduktor Lokal
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa ketergantungan AS pada impor semikonduktor mengancam keamanan nasional dan perekonomian. Ia menjelaskan bahwa pemerintahan Trump mengadopsi pendekatan multi-aspek, termasuk tarif, pemotongan pajak, deregulasi, dan dukungan energi. Untuk memindahkan manufaktur penting ke dalam negeri. Strategi ini mencerminkan upaya jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global. Terutama di sektor teknologi yang vital bagi pertahanan dan ekonomi AS.
Dampak Potensial Tarif Baru pada Harga Barang Konsumen dan Inflasi
Jika kebijakan ini diterapkan, berbagai produk konsumen mulai dari sikat gigi elektrik hingga laptop bisa terkena tarif berdasarkan kandungan chip di dalamnya. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Di tengah harga barang yang sudah melampaui target inflasi 2 persen Federal Reserve AS. Ekonom dari American Enterprise Institute, Michael Strain. Memperingatkan bahwa tarif baru justru dapat membuat barang konsumsi lebih mahal. Termasuk produk dalam negeri yang menggunakan bahan baku impor terkena tarif. Hal ini menambah tekanan pada konsumen dan perekonomian yang masih berusaha pulih dari dampak pandemi.
Ketidakjelasan Detail Kebijakan Tarif dan Pengecualian yang Mungkin Diberlakukan
Meski ada wacana tarif baru, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab. Sampai saat ini, belum jelas produk mana saja yang akan dikenakan tarif, besaran tarif final, dan apakah ada negara, perusahaan, atau produk yang akan dikecualikan. Pada Agustus 2025, Trump menyatakan akan mengenakan tarif 100 persen untuk semikonduktor impor, kecuali bagi perusahaan yang memproduksi di AS atau berkomitmen memindahkan produksinya ke AS. Departemen Perdagangan juga disebut mempertimbangkan tarif 25 persen untuk kandungan chip dan tarif 15 persen khusus bagi barang elektronik dari Jepang dan Uni Eropa. Namun, angka ini masih bersifat tentatif dan dapat berubah sesuai evaluasi.
“Baca Juga: Sony Pulse Elevate Hadir dengan Speaker Wireless dan Mic Bawaan”
Insentif dan Upaya Pemerintah untuk Mendukung Relokasi Produksi Semikonduktor
Selain tarif, Departemen Perdagangan dikabarkan menyiapkan insentif berupa pengecualian pajak berbasis dolar bagi perusahaan yang memindahkan minimal separuh produksinya ke AS. Namun, mekanisme dan detail kebijakan insentif ini masih dalam tahap pembahasan. Langkah ini melengkapi strategi pemerintah AS yang sejak lama berupaya membangun rantai pasok semikonduktor lokal agar lebih mandiri dan tangguh. Produsen chip global seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) dan Samsung Electronics, yang kini mendominasi pasar internasional, menjadi sasaran kebijakan ini. Jika berhasil, kebijakan ini akan mendorong investasi dan pengembangan industri teknologi AS sekaligus mengurangi risiko ketergantungan impor dalam sektor vital tersebut.




Leave a Reply