NhatXu– Harga memori RAM global melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir dan mulai memberi tekanan serius pada industri smartphone dunia. Lembaga riset Counterpoint mencatat kenaikan harga ini memengaruhi hampir seluruh rantai pasok perangkat seluler. Produsen menghadapi biaya produksi yang semakin tinggi di tengah permintaan pasar yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut mendorong perubahan proyeksi pasar global untuk beberapa tahun ke depan. Tekanan harga komponen kini menjadi faktor utama yang menentukan arah industri smartphone.
“Baca Juga: Donald Trump Targetkan Misi Manusia ke Bulan Tahun 2028″
Prediksi Penurunan Pengiriman Smartphone Tahun 2026
Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 akan menyusut sekitar 2,1 persen secara tahunan. Penurunan ini berbanding terbalik dengan tren harga jual perangkat yang justru meningkat. Kenaikan harga smartphone global diperkirakan mencapai 6,9 persen pada periode yang sama. Lonjakan harga ini dipicu oleh kenaikan biaya komponen utama, terutama memori RAM. Analis menilai tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat. Harga RAM diproyeksikan masih berpotensi naik hingga 40 persen sampai kuartal kedua 2026. Proyeksi ini memperkuat kekhawatiran akan perlambatan pasar smartphone secara global.
Kenaikan Biaya Produksi dan Dampaknya pada Segmen Ponsel
Kenaikan harga RAM berdampak langsung pada bill of materials atau biaya komponen perakitan smartphone. Counterpoint mencatat biaya komponen ponsel kelas bawah sudah naik sekitar 25 persen dibanding awal tahun. Untuk segmen menengah, kenaikan biaya produksi mencapai sekitar 15 persen. Smartphone flagship juga terdampak, dengan kenaikan biaya sekitar 10 persen. Jika lonjakan harga RAM berlanjut hingga pertengahan 2026, biaya produksi berpotensi naik tambahan 8 hingga 15 persen. Tekanan ini memaksa produsen melakukan penyesuaian strategi agar margin keuntungan tetap terjaga.
Strategi Produsen dan Penurunan Spesifikasi Perangkat
Untuk menekan biaya, sejumlah produsen mulai memangkas spesifikasi pada beberapa lini produk. Analis senior Counterpoint, Shenghao Bai, menyebut langkah ini terlihat pada berbagai komponen non-esensial. Beberapa model mengalami penurunan spesifikasi kamera, termasuk modul periskop dan sensor tambahan. Produsen juga menyesuaikan kualitas layar, sistem audio, dan konfigurasi memori. Strategi ini bertujuan menjaga harga jual tetap kompetitif tanpa mengorbankan keberlanjutan bisnis. Namun, langkah tersebut berisiko memengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai produk, terutama di segmen menengah.
“Baca Juga: Google Akuisisi Intersect untuk Amankan Listrik AI”
Dampak Berbeda bagi Produsen Besar dan Pemain China
Tekanan biaya diperkirakan akan menurunkan volume pengiriman sejumlah produsen besar. Oppo dan Vivo, yang sebelumnya diproyeksikan tumbuh pada 2026, kini diperkirakan mengalami penurunan. Xiaomi dan Honor diprediksi menghadapi penurunan lebih dalam dari estimasi awal. Apple dan Samsung juga terdampak, tetapi dinilai memiliki posisi lebih kuat. Analis Senior Counterpoint, Yang Wang, menyatakan kedua raksasa tersebut lebih siap bertahan dalam beberapa kuartal ke depan. Ia menegaskan situasi akan lebih berat bagi produsen yang memiliki ruang gerak terbatas. Dampak tekanan biaya diperkirakan paling terasa pada produsen smartphone asal China. Ke depan, produsen akan semakin mendorong konsumen ke segmen premium. Segmen ini relatif lebih tahan karena porsi biaya RAM terhadap total produksi lebih kecil.




Leave a Reply