NhatXu– Perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran semakin mengganggu pasokan energi di kawasan Asia. Dampak konflik ini mulai dirasakan oleh sejumlah negara, termasuk Malaysia. Gangguan distribusi global memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi dan ekonomi domestik.
Ketegangan meningkat setelah jalur distribusi utama di Timur Tengah terganggu. Penutupan Selat Hormuz memperparah kondisi pasar energi global. Jalur ini merupakan rute vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
“Baca Juga: Krisis Pasokan, India Impor Besar Minyak Rusia”
Malaysia Siapkan Sumber Energi Alternatif Lewat Petronas
Pemerintah Malaysia bergerak cepat untuk mengantisipasi krisis energi yang semakin dalam. Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof menyatakan bahwa Petronas telah menyiapkan rencana darurat. Langkah ini bertujuan menjaga kestabilan pasokan energi nasional.
Fadillah menjelaskan bahwa Petronas mulai mencari alternatif pasokan dari Australia dan kawasan Asia-Pasifik. Strategi ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah konflik.
Ia menyatakan bahwa berbagai skenario telah dipersiapkan dengan matang. Menurutnya, pasokan energi Malaysia masih dalam kondisi stabil saat ini. Pernyataan tersebut dikutip dari Channel News Asia pada 25 Maret 2026.
Ketergantungan Selat Hormuz Perparah Risiko Pasokan Malaysia
Gangguan pasokan energi Malaysia berkaitan langsung dengan Selat Hormuz. Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen pasokan energi global. Penutupan selat memberikan dampak signifikan terhadap distribusi energi internasional.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen pasokan minyak Malaysia melewati jalur tersebut. Hal ini membuat Malaysia sangat rentan terhadap gangguan distribusi.
Ia juga menegaskan bahwa Malaysia tetap bergantung pada impor minyak. Kondisi ini terjadi meskipun negara tersebut merupakan produsen minyak. Ketergantungan impor memperbesar dampak dari krisis global.
Harga BBM Malaysia Naik, Subsidi RON95 Tetap Dipertahankan
Tekanan global mendorong pemerintah Malaysia menaikkan harga bahan bakar dalam dua pekan terakhir. Penyesuaian dilakukan untuk mengikuti lonjakan harga energi dunia.
Harga bensin RON97 naik sekitar 70 sen menjadi 4,55 ringgit per liter. Sementara itu, harga diesel di Semenanjung Malaysia meningkat sekitar 80 sen menjadi 4,72 ringgit per liter.
Kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan subsidi untuk bensin RON95. Harga RON95 dijaga di kisaran 1,99 ringgit per liter untuk melindungi daya beli masyarakat.
Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara fiskal dan stabilitas sosial.
“Baca Juga: OpenAI Kembangkan Aplikasi AI Serbabisa di Desktop”
Ancaman PHK dan Perdebatan Kebijakan Subsidi Energi
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran di kalangan oposisi. Ketua Perikatan Nasional Ahmad Samsuri Mokhtar memperingatkan dampak lanjutan terhadap ekonomi. Ia menilai kenaikan biaya energi akan memicu lonjakan harga barang dan jasa.
Menurutnya, sektor logistik, manufaktur, dan usaha kecil berisiko terdampak serius. Ia juga menyoroti potensi peningkatan pemutusan hubungan kerja dalam beberapa bulan ke depan.
Perdebatan juga muncul terkait penggunaan dana Petronas untuk subsidi energi. P Ramasamy menilai pemerintah perlu meningkatkan alokasi subsidi untuk meredam dampak.
Namun, anggota parlemen DAP Chong Zhemin menolak pendekatan tersebut. Ia menilai subsidi besar tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Menurutnya, keuntungan minyak sebaiknya dialokasikan untuk investasi dan tabungan masa depan.
Ke depan, Malaysia menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan energi akan menjadi faktor penting dalam menentukan ketahanan nasional di tengah krisis global.



Leave a Reply