NhatXu– Ubisoft kembali melakukan pemutusan hubungan kerja dalam skala besar pada 2026. Kali ini, langkah tersebut menyasar Red Storm Entertainment, studio yang dikenal melalui seri Tom Clancy. Sebanyak 105 karyawan dilaporkan terdampak dalam gelombang PHK terbaru ini.
Informasi ini diperoleh dari sumber internal yang dikutip oleh GamesIndustry.biz. PHK tersebut menambah daftar panjang restrukturisasi yang dilakukan Ubisoft dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi industri game global.
“Baca Juga: Honda Hentikan 3 Mobil Listrik, Rugi Rp266 T”
Langkah ini juga memunculkan kekhawatiran terkait masa depan Red Storm Entertainment. Studio tersebut kini menghadapi perubahan besar dalam struktur dan operasionalnya.
Red Storm Entertainment dan Perannya dalam Seri Tom Clancy Sejak 1996
Sejak didirikan pada 1996, Red Storm Entertainment menjadi bagian penting dalam pengembangan game Tom Clancy. Studio ini terlibat dalam seri awal Ghost Recon yang dikenal luas oleh pemain. Selain itu, mereka juga berkontribusi dalam beberapa judul Rainbow Six.
Pengalaman panjang tersebut menjadikan Red Storm sebagai salah satu studio kunci Ubisoft. Mereka dikenal memiliki keahlian dalam mengembangkan game taktis berbasis militer. Kontribusi ini membantu membangun reputasi kuat bagi franchise Tom Clancy.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, peran studio mulai mengalami perubahan. Hal ini seiring dengan penyesuaian strategi Ubisoft terhadap kondisi industri.
Pembatalan Proyek The Division Heartland dan Splinter Cell VR
Sebelum gelombang PHK terbaru, Red Storm sudah menghadapi tantangan besar. Dua proyek mereka, yaitu The Division Heartland dan Splinter Cell VR, dibatalkan oleh Ubisoft. Pembatalan ini menjadi sinyal awal adanya perubahan strategi perusahaan.
Kedua proyek tersebut awalnya diharapkan menjadi bagian penting dalam portofolio Ubisoft. Namun, keputusan pembatalan menunjukkan adanya evaluasi ulang terhadap prioritas pengembangan. Hal ini juga berdampak langsung pada stabilitas tim di dalam studio.
Pembatalan proyek sering kali menjadi indikator restrukturisasi yang lebih luas. Dalam kasus ini, dampaknya terlihat pada pengurangan tenaga kerja yang signifikan.
Restrukturisasi Ubisoft dan Tekanan Biaya Operasional Industri Game
Ubisoft menyatakan bahwa PHK dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan. Tujuannya adalah menekan pengeluaran di tengah meningkatnya biaya operasional. Selain itu, perusahaan juga menghadapi melemahnya daya beli pemain.
Langkah efisiensi ini bukan pertama kali dilakukan. Pada Juni 2025, Red Storm juga sempat merumahkan 19 karyawan. Pola ini menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menyesuaikan struktur biaya perusahaan.
Industri game saat ini menghadapi tantangan yang kompleks. Biaya pengembangan meningkat, sementara pasar menjadi lebih kompetitif. Kondisi ini memaksa banyak perusahaan untuk melakukan penyesuaian strategi.
“Baca Juga: Clair Obscur Expedition 33 Tak Punya True Ending”
Perubahan Peran Red Storm dan Ketidakpastian Masa Depan Studio
Selain PHK, Red Storm juga mengalami perubahan peran yang signifikan. Studio tersebut tidak lagi fokus sebagai pengembang game utama. Kini, mereka dialihkan untuk mendukung pengembangan engine Snowdrop.
Selain itu, Red Storm juga menangani layanan IT dan dukungan pelanggan. Perubahan ini menunjukkan pergeseran fungsi dalam struktur Ubisoft. Studio kini lebih berperan sebagai pendukung teknologi daripada kreator utama.
Sebelumnya, Ubisoft juga melakukan PHK di kantor Toronto pada Februari 2026. Sekitar 40 karyawan terdampak dalam langkah tersebut. Saat itu, perusahaan menyebutnya sebagai fase terakhir program penghematan.
Namun, PHK terbaru ini menimbulkan pertanyaan baru. Belum jelas apakah langkah ini masih bagian dari rencana yang sama. Kondisi tersebut membuat masa depan Red Storm Entertainment berada dalam ketidakpastian.



Leave a Reply