NhatXu– Razer kembali mencuri perhatian publik dalam ajang CES 2026 dengan memamerkan pengembangan terbaru dari Project AVA. Jika sebelumnya Project AVA hanya hadir sebagai asisten AI berbasis layar di PC, kini Razer memperkenalkannya dalam bentuk perangkat fisik. Langkah ini menandai evolusi penting dalam visi Razer menghadirkan interaksi AI yang lebih imersif dan personal bagi pengguna, khususnya di ekosistem gaming dan komputasi.
“Baca Juga: YouTube Tambah Filter Pencarian, Pisahkan Shorts dan Video”
Perangkat fisik Project AVA ditampilkan sebagai unit demo, bukan produk final. Meski demikian, kehadirannya memberikan gambaran jelas mengenai arah pengembangan teknologi AI Razer. Dengan memindahkan AI dari layar ke perangkat tersendiri, Razer ingin menciptakan pengalaman interaksi yang terasa lebih nyata dan intuitif.
Desain Tabung Transparan dengan Hologram AI Interaktif
Project AVA versi fisik hadir dalam bentuk tabung transparan yang menampilkan hologram karakter AI berukuran sekitar 5,5 inci di bagian dalamnya. Desain ini langsung mencolok dan berbeda dari perangkat AI konvensional yang umumnya berbentuk speaker pintar. Tampilan hologram memberi kesan futuristik dan selaras dengan identitas visual Razer yang selama ini dikenal berani dan eksperimental.
Pendekatan desain ini bertujuan membuat kehadiran AI terasa lebih hidup. Karakter AI tidak hanya muncul sebagai antarmuka statis, tetapi ditampilkan seolah berada di ruang fisik pengguna. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kedekatan emosional antara pengguna dan asisten AI yang mereka gunakan sehari-hari.
Sensor Kamera dan Audio Dukung Interaksi yang Lebih Natural
Untuk mendukung interaksi yang lebih alami, Razer membekali Project AVA dengan kamera HD, mikrofon jarak jauh, dan speaker internal. Kombinasi perangkat keras ini memungkinkan AI tidak hanya merespons perintah suara, tetapi juga memahami kondisi lingkungan sekitar. Kamera memungkinkan AI melihat situasi visual, sementara mikrofon jarak jauh mendukung interaksi tanpa harus berbicara dekat perangkat.
Dengan kemampuan tersebut, Project AVA dirancang agar dapat bereaksi secara kontekstual terhadap pengguna. AI dapat menyesuaikan respons berdasarkan apa yang dilihat dan didengar. Pendekatan ini memperkuat konsep AI sebagai asisten yang selalu hadir, bukan sekadar alat yang menunggu perintah eksplisit.
Pilihan Avatar Unik hingga Karakter Ikonik Esports
Dari sisi visual, Razer menghadirkan beberapa pilihan avatar untuk Project AVA. Salah satu yang paling menonjol adalah karakter bergaya anime dengan pakaian berenda dan aksen hijau neon khas Razer. Avatar ini mencerminkan pendekatan estetika yang dekat dengan komunitas gamer dan penggemar budaya pop Jepang.
Selain itu, tersedia avatar dengan tampilan lebih realistis, termasuk karakter Faker, pemain paling sukses dalam sejarah League of Legends. Ada pula karakter Sao yang terinspirasi dari figur wanita pekerja kantoran Jepang yang sempat viral. Variasi ini menunjukkan upaya Razer menghadirkan personalisasi tinggi agar pengguna dapat memilih representasi AI sesuai preferensi mereka.
“Baca Juga: Rockstar Serahkan Bukti Baru dalam Kasus PHK GTA 6″
Ketergantungan PC dan Potensi Dukungan Model AI Lain
Meski hadir sebagai perangkat fisik mandiri, Project AVA saat ini masih memerlukan koneksi ke PC melalui USB-C. Koneksi tersebut digunakan untuk menyuplai daya sekaligus data yang dibutuhkan sistem AI. Artinya, perangkat ini belum sepenuhnya berdiri sendiri dan masih menjadi bagian dari ekosistem PC Razer.
Untuk urusan perangkat lunak, Project AVA saat ini berjalan menggunakan model AI tertentu. Namun, Razer membuka kemungkinan dukungan model lain di masa depan, termasuk Gemini dan ChatGPT. Pendekatan terbuka ini memberi fleksibilitas pengembangan jangka panjang. Dengan demikian, Project AVA berpotensi terus berkembang mengikuti kebutuhan dan preferensi pengguna, seiring kemajuan teknologi AI global.




Leave a Reply