NhatXu – Pemerintah Tiongkok resmi memperketat pengawasan terhadap aplikasi kecerdasan buatan atau AI yang berfungsi sebagai pendamping virtual. Langkah ini diambil setelah meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak emosional yang dapat ditimbulkan oleh layanan tersebut. Regulasi baru menargetkan aplikasi yang dinilai berpotensi menciptakan ketergantungan emosional hingga mengganggu hubungan sosial di dunia nyata. Kebijakan ini juga mencakup berbagai chatbot berbasis AI yang menerima interaksi langsung dari pengguna.
“Baca Juga: Film Call of Duty Angkat Modern Warfare, Tayang 2027″
Regulasi Baru Larang AI Mendorong Ketergantungan Emosional
Aturan baru tersebut diterbitkan oleh Cyberspace Administration of China (CAC) bersama empat departemen pemerintah lainnya. Regulasi ini mengatur pengembangan dan operasional layanan AI yang berinteraksi langsung dengan pengguna.
Dalam ketentuan tersebut, pengembang tidak lagi diperbolehkan menciptakan AI yang mendorong ketergantungan emosional. Pemerintah menilai hubungan semacam itu dapat berkembang menjadi bentuk adiksi yang berdampak negatif terhadap kehidupan sosial.
Selain itu, layanan AI juga tidak boleh dirancang dengan tujuan menggantikan hubungan antarmanusia. Regulasi tersebut secara khusus menyoroti potensi kerusakan hubungan interpersonal apabila pengguna lebih memilih berinteraksi dengan AI dibandingkan lingkungan nyata.
Langkah ini menunjukkan semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap dampak sosial dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Regulasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menciptakan penggunaan AI yang dinilai lebih bertanggung jawab.
Hubungan Virtual dengan Anak di Bawah Umur Dilarang
Selain membatasi ketergantungan emosional, pemerintah Tiongkok juga melarang AI membangun hubungan virtual dengan anak di bawah umur. Larangan tersebut berlaku untuk berbagai bentuk interaksi yang dapat memengaruhi perkembangan emosional maupun psikologis pengguna muda.
Aturan ini mulai diberlakukan sejak 15 Juli. Seluruh perusahaan teknologi yang menyediakan layanan AI diwajibkan mematuhi ketentuan tersebut sebelum produk mereka dipasarkan kepada masyarakat.
Regulasi juga mengharuskan pengembang mengevaluasi sistem AI secara menyeluruh. Tujuannya untuk memastikan layanan yang disediakan tidak melanggar ketentuan baru yang telah ditetapkan pemerintah.
Dengan aturan tersebut, pemerintah berharap penggunaan AI tetap berada dalam batas yang dianggap aman. Perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak, menjadi salah satu fokus utama kebijakan ini.
ByteDance, Tencent, dan Alibaba Wajib Evaluasi Layanan AI
Sejumlah perusahaan teknologi besar di Tiongkok disebut terdampak langsung oleh regulasi tersebut. Di antaranya adalah ByteDance, Tencent, dan Alibaba yang memiliki berbagai layanan berbasis kecerdasan buatan.
Ketiga perusahaan itu diwajibkan melakukan evaluasi terhadap aplikasi AI pendamping sebelum dirilis kepada publik. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan fitur yang tersedia tidak memicu ketergantungan emosional atau melanggar aturan lainnya.
Pemerintah juga memberikan kewenangan kepada otoritas terkait untuk menghentikan layanan AI apabila ditemukan pelanggaran. Penutupan dapat dilakukan setelah melalui proses pengawasan dan pemeriksaan yang menunjukkan adanya risiko bagi masyarakat.
Ketentuan tersebut tidak hanya berlaku untuk aplikasi AI pendamping. Regulasi juga mencakup chatbot lain yang menerima masukan atau prompt langsung dari pengguna.
Dengan cakupan yang luas, hampir seluruh layanan chatbot berbasis AI di Tiongkok perlu menyesuaikan sistem mereka agar sesuai dengan regulasi terbaru.
“Baca Juga: Trump Sebut AS Menang Besar dalam Konflik Iran”
Sejumlah Chatbot Ditutup di Tengah Spekulasi Penyebab Regulasi
Sebagai dampak dari aturan baru, sejumlah perusahaan teknologi dilaporkan mulai menghentikan layanan chatbot karakter fiktif. Langkah tersebut dilakukan agar produk mereka tidak bertentangan dengan regulasi yang telah diberlakukan.
Penutupan layanan membuat banyak pengguna kehilangan akses terhadap chatbot yang sebelumnya digunakan secara rutin. Kondisi ini bahkan memunculkan istilah “di-ghosting” secara massal karena karakter AI yang biasa diajak berinteraksi mendadak tidak lagi tersedia.
Hingga kini, pemerintah Tiongkok belum menyatakan secara resmi alasan spesifik di balik penerapan regulasi tersebut. Namun, sejumlah pengamat mengaitkan kebijakan ini dengan berbagai tantangan sosial yang sedang dihadapi negara tersebut.
Salah satu isu yang sering dikaitkan adalah penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, hubungan antara regulasi AI dan kondisi demografi tersebut masih berupa spekulasi dan belum dikonfirmasi oleh pemerintah.
Melalui kebijakan ini, Tiongkok menunjukkan pendekatan yang lebih ketat terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Pemerintah berupaya memastikan teknologi AI berkembang tanpa menimbulkan dampak sosial yang dinilai merugikan, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap layanan digital yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.




Leave a Reply